
[Teruntuk kamu di ujung mata]
Saat berbincang denganmu adalah hal yang indah untuk dikenang. Meski kejapan mata tak sanggup hilangkan bayangmu dari pucuk pupil mataku. Karma bayangmu terlalu kuat untuk melekat di pupilku.
Kamu.. seorang laki-laki humoris, cuek dan biasa saja. Dengan sedikit demi sedikit pesona yang kau bawa, dirimu mulai tapaki hatiku yang beku. Dengan ceriamu, dengan jahilmu dan dengan caramu… kau cairkan kebekuan hatiku. Dengan perhatianmu sedikit demi sedikit, kau ulangi lagi, kau benar-benar mencairkan hatiku. Hingga hatiku benar-benar terbuka untuk cinta. Rasa yang selama ini aku teguhkan untuk ku buang jauh-jauh.
Kehadiranmu saat aku tengah dingin oleh yang namanya cinta. Disaat aku tak ingin memulai lagi kesalahan yang terlanjur kuperbuat. Tapi, adanya dirimu merubah suasana yang ada. Beku menjadi panas. Panas karena caramu perlakukanku. Panas yang telah meleburkan kebekuan hatiku.
Tak kurasa, hati ini pun mulai menerima kehadiranmu. Kau tebarkan rasa yang tak ingin aku rasa lagi. Karena rasa itu buatku jatuh dan terluka. Tapi, sekuat apapun aku berusaha, aku bukan supergirl yang mampu menahan semuanya. Aku pun sedikit demi sedikit mulai ada rasa padamu. Rasa yang telah ku kubur itu tumbuh lagi. Ya, aku menyukaimu.
Cerita tak kan indah apabila tak ada masalah. Demikian pula dalam ceritaku saat ini. Semuanya terjadi karena kamu telah berdua dengannya. Kau telah dimiliki oleh seseorang yang menyayangimu secara langsung. Bukan sepertiku yang menyayangimu dari balik layar. Menyayangimu hanya untuk aku. Karena aku takut kau tak acuhkanku.
Tak pernah ku ungkap rasa ini kecuali pada kedua temanku. Emm.. bukan bukan, kedua saudaraku. Ya begitu lebih baik. Daripada aku gila memendam semua ini sendirian, aku menceritakan saja padanya. Mereka bilang agar aku merelakanmu, tapi jika Allah berkehendak lain, itu anugerah untukku. Jadi aku harus bisa menerima semuanya apapun keputusanmu. Meski tak secara langsung kau bilang itu padaku. Kira-kira begitulah mereka menasehatiku.
Namun, aku juga tak mau menjadi gulma dalam hubunganmu dengan dia. Karena kutahu kau dan dia saling menyayangi. Dia terlihat “lebih” dari aku. Aku merasa jika diriku menjadi sarkastis untuk bersaingan dengannya. Aku hanya wanita biasa saja yang tak punya apa-apa layaknya pendampingmu itu. Aku hanyalah wanita yang datang dari terra incognita yang tiba-tiba membuyarkan jalan hidupmu. Yang berharap kau menjadi milikku dan menyayangiku. Meski aku tahu bahwa itu hanya mimpi belaka. Thanks laki-laki yang telah buatku tersenyum.
Diriku merasa skeptis dalam menghadapi masalah ini. Antara apa aku harus berbicara jujur padamu ataukah hanya melalui pesan ini? Semua itu karena kita tak pernah bisa bertatap muka, tak bisa secara langsung tuk berkata, tak pernah berani tuk mengungkapkan segalanya. Karena awalnya, kita bertemu, kita mengenal dan kita bicara hanya lewat pesan belaka, pesan di layar monitor yang online 24 jam. Hanya itu saja.
Serangkaian kata-kata yang tak beraturan ini aku tujukan pada seorang yang ingin kuajak bicara langsung, tapi tak pernah bisa. Dan apakah dengan ini kau akan merasa bahwa ada seseorang dibalik dirimu yang tengah menyayangimu??
EphkharistO …
[yang ingin menyayangimu penuh]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
thanks for leaving comment :)
have a good day, pals!