Minggu, 25 Desember 2011

Cinta Diam-Diam #Part 5

Rahasia tanpa ucapan. Sungguh sulit untuk dihentikan. Selalu saja menjadi rahasia yang berujung untuk dikenang. Namun, harapan itu selalu ada.
Tadi 7 Juni 2011, sore hari... sehabis mandi aku seperti biasa langsung jalan menuju ke kamarku. Aku dengar ibuku sedang bicara dengan seseorang. Aku mengira mungkin temannya. Tetapi, ketika aku buka pintu dan menengok ke ruang tamu -memang letak kamarku sebelahan sama ruang tamu- ada si dia.
Dag dig dug tidak karuan hati ini. Salah tingkah pula. Sebisa mungkin aku mencoba tenang. Aku langsung saja menemui dia. Tanpa sisiran, tanpa make-up, polosan deh pokonya, karena memang habis mandi. Hehe J
Akhirnya aku duduk di depannya. Aku bicara dengannya. Kutatap matanya. Aku memang paling suka menatap mata seseorang jika sedang berbicara, siapapun itu. Mata kita beradu, mengunci, dan diam. Aku berusaha mengumpulkan sayup-sayup suara yang terdengar lirih di telingaku.. agar aku tak malu ketahuan memandanginya tanpa mendengarkannya bicara panjang lebar. Hihi J
Aku dan dia berbicara tentang kuliah dan masa depan nanti, tentang orang tuanya, tentang hidup kami. Rasanya nyaman sekali berbicara dengannya. Boleh kan aku merasa seperti ini?
Setengah jam berlalu, percakapan singkat yang meluncur dengan indahnya itu pun harus diakhiri karena adzan sudah mengumandang.
Aku bilang ke dia “Sstt.. diam dulu, ada adzan”
“Aku diam. Kamu mau bilang apa? Sini aku dengerin” katanya
“Nggak usah, nggak jadi, kamu aja yang bilang” sahutku
“Aku mau pulang aja deh, aku mau ke rumah nenekku.” katanya lagi. Yah.. kok pulang sih, padahal aku kan masih ingin berbincang dengannya, dalam hatiku bilang begitu.
“Dirumah budhemu itu ya?” tanyaku. Dia hanya mengangguk dan menatapku.
Aku tersenyum. Kyaaa.. sebenarnya masih ingin terus berbincang-bincang sama dia nih, tapi apa boleh buat, sudah adzan Maghrib. Tidak enak juga kalau dilihatin orang.
Dia pamit pulang, karena ibuku sedang sibuk, jadi hanya aku yang mengantarnya ke depan rumah.
“Eh ya, aku tunggu beneran lho traktirannya kalo nanti dapet kuliah impianmu itu.” ujarku di teras depan rumah dengan senyum lebar.
Dia hanya nyengir saja sambil menuju gerbang depan rumah. Di depan gebang dia berbalik dan bilang “Ya semoga aja ya. Doakan.”
“Oke aku tunggu” dia menutup pintu gerbang.
Mesin motornya dinyalakan dan dia bilang “Duluan ya,” sambil senyum sekilas.
Aku melambaikan tangan sambil senyum simpul ke dia juga. Senyum senang. J

bersambung***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

thanks for leaving comment :)
have a good day, pals!