Senin, 26 Desember 2011

Cinta Diam-Diam #Part 6

Pertemuan itu mengawali pertemuan-pertemuan berikutnya. Pertemuan pertama yang menjadi kenangan dan pertemuan terakhir yang mejadi harapan.
Sudah lama aku tak berkomunikasi dengan dia. Semenjak itu pulalah sudah lama aku tak bercerita tentang dia. Semenjak kepergiannya untuk belajar ke kota seberang. Dia dilarang berkomunikasi selama waktu yang ditentukan. Aku juga tak ingin mengganggunya.
Hari ini, aku mengingat ceritaku dan dia. Flashback. Mari kuceritakan.
Sebenarnya aku dan dia sudah kenal sejak SMP. Kebetulan sekolah kami sama, namun kami tidak pernah sekelas. Pada kelas 2 SMA-lah aku mulai mengenalnya lebih jauh. Ketika acara bakti sosial yang diadakan sekolahku di daerah lereng pegunungan. Aku lupa namanya. Acaranya selama empat hari tiga malam.
Hari kedua, hujan mengguyur daerah tempat kami bakti sosial, padahal aku -sebagai pendamping- harus menghadiri pertemuan para pendamping di daerah atas. Aku berjalan berdua dengan temanku di tengah guyuran hujan memakai payung. Ketika perjalanan pulang, aku berpapasan dengan dia, basah kuyup kehujanan. Mereka menghampiri aku dan temanku. Dia dan temannya membagikan sebuah kertas berisi jadwal kegiatan di hari ketiga. Aku memandang dia, dia hanya cengar-cengir saja kepadaku. Aku jadi salah tingkah, apa ada yang salah dengan penampilanku? Aku bertanya-tanya. Itulah pertama kali kami bersapa. Kami berpisah, berjalan berlawanan arah.
Setelah peristiwa ketika bakti sosial itu, aku dan dia semakin dekat. Dia sering mengirimiku pesan singkat yang terkadang hanya berisi basa-basi. Dia juga sering datang ke rumahku. Ternyata orang tua kami adalah teman lama. Karena itulah, orang tuaku menganggap dia seperti anak sendiri. Hal tersebut membuat kami semakin dekat, dan kami tahu apa yang kami rasakan. Kami hanya diam saja. Aku juga telah bersama dengan yang lain. Namun, hal tersebut tak memberi jarak yang berarti pada kami.
Kami sering berbagi cerita tentang kehidupan sehari-hari kami, tentang sekolah kami saat ini, sekolah masa depan, tentang teman-teman kami dan lain-lainnya. Dia tak canggung untuk bercerita panjang lebar, aku pun juga. Namun, cinta diam-diam ini membuat semuanya harus berjalan sembunyi-sembunyi. Hingga puncaknya, kami sering keluar diam-diam. Bertemu sembunyi-sembunyi. Lalu aku menyadari bahwa itu salah. Aku mulai sedikit menjauh darinya. Aku jujur kepada laki-laki yang berstatus pacarku tentang semuanya. Dan akhirnya kami berhenti di tengah jalan.
Semenjak itu, aku dan Adib kembali seperti biasa. Namun, ternyata kuketahui bahwa dia telah bersama dengan yang lain. Aku kembali menghindarinya lagi. Aku tidak mau terjadi kesalahpahaman. Selang waktu berjalan, ketika kami harus dihadapkan dengan keadaan yang menjadi puncak dari masa SMA kami. Kelulusan. Ketika itu, dia kembali sering menemuiku. Kami kembali sering bersama-sama. Dan akhirnya, dia diterima di sekolah impiannya di kota seberang. Semenjak itu, tak ada kabar darinya.

bersambung***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

thanks for leaving comment :)
have a good day, pals!