Minggu, 16 September 2012

Aku Jatuh

Aku takut bicara tentang perasaan. Aku bukan orang yang pandai menutupi, menyimpan atau sejenisnya mengenai perasaan. Namun, aku sekali ini ingin menyimpannya sendiri. Dan aku ternyata tak bisa. Maaf.
Kamu tahu aku menyukaimu. Butuh waktu juga aku menyadari ini setelah kamu bilang padaku sebulan yang lalu. Hingga akhirnya aku tahu tentang apa yang sebenarnya saya rasakan, yang saya butuhkan. Aku beranikan bilang itu meski kamu sudah tahu.

Terima kasih kamu telah membahagiakan saya dalam waktu sebulan itu. Tanpa isyarat, kau memberitahuku bahwa aku tak mati rasa lagi. Dan memang benar, aku bahagia. Jika aku balon mungkin aku akan meletus. Kamu tahu kan? Jelas. Karena kita merasakannya.
Ditengah buncah rasa itu, entah apa yang membuatku kembali mengorek cerita tentang hatimu yang lalu. Kau cerita tentang yang kau rasa terhadap dia. Dari ceritamu, aku merasa kalah, aku terdepak dari hatimu. Aku kalut, aku takut. Aku butuh tempat sampahku. Tapi itu kamu. Sedangkan kamu tak tentu terhadapku. Kemana aku harus menuju? Apa kamu tahu?

Aku akhirnya jatuh. Namun aku tak mau. Aku berusaha bangkit sendiri. Membangun pertahananku sendiri. Mencoba mengatasi sendiri. Dan aku menyadari. Akukah yang egois atau kamu? Aku tahu dan paham benar tentang melupakan. Aku tanya padamu bisa tidak kau hilangkan perasaanmu terhadap dia? Jika kau bilang kepadaku kau tak tahu, berarti dirimu yang belum mau. Kau belum mau melepaskan bayang rasamu terhadap dia. Dan kamu egois. Jika kau bilang iya, aku tahu kamu mau berusaha. Aku sadar dan pastinya tahu, tak mungkin sekejap saja kau hilangkan perasaanmu. Namun aku yakin, jika kau berusaha kau pasti bisa.

Aku tak mau kita jatuh. Aku tak mau menyakiti hatimu. Dan aku tak juga mengijinkan kamu menyakiti hatiku. 

Dan sekarang, aku harus bagaimana? Aku terlanjur membuka hati dan aku tak mau tersakiti.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

thanks for leaving comment :)
have a good day, pals!