"Bri, apa aku terlampau jauh mengenalnya? Apa harus kucukupkan saja?" tanya Kalya.
Yang diajak bicara tetap asyik makan cemilan sambil nonton TV, " Terserah kamu aja sih, Kal. Memangnya kamu berani melakukan hal itu?" ucap Brisa akhirnya.
"Lalu apa yang harus aku perbuat, Bri? Aku nggak ngerti."
"Tahu Diri."
"Maksud kamu?"
"Ya kamu harusnya tahu diri kapan harus mengganggunya, kapan harus berhenti. Kapan harus bicara dan kapan harus diam. Kapan harus bertindak dan kapan harus menunggu."
"Begitu ya?" "Tapi aku membutuhkannya, Bri."
"Sama halnya dengan dia kan, Kal..."
"Aku takut jatuh lagi. Aku takut sakit hati kemudian mati rasa seperti yang lalu, Bri."
"Makanya kamu harus 'tahu diri' biar kamu tetap tegar berdiri." jawab Brisa dengan penekanan di kata tahu diri.
Kalya hanya bisa diam merenungi perkataan Brisa. Iya benar apa yang diucapkan Brisa, kata Kalya dalam hati.
"Kalya... Aku nggak mau lihat kamu jatuh dan sakit hati lagi. Aku tahu benar perjuanganmu mencapai titik ini. Titik dimana kamu bisa bahagia dan kembali bisa merasa. Jangan sampai hal ini menghancurkan usahamu selama ini. Kamu cuma perlu tahu diri untuk memastikan semua ini baik-baik saja, demikian pun diri kamu sendiri."
Bulir hangat itu mengalir di pipi Kalya. Kemudian dia memeluk Brisa erat dan berbisik, "Terima kasih, Bri, aku akan berupaya untuk tahu diri."
Brisa pun tersenyum tulus dibalik punggung Kalya. TV di depan mereka menjadi saksinya, betapa kejadian itu menyentuh hati.
*catatanababilgundahpagi-pagi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
thanks for leaving comment :)
have a good day, pals!