Dengarkan aku ya, kamu.
Masih ingat. Lekat. Waktu itu, pertama melihatmu, di tengah koridor kelas sebelas SMA. Aku melihatmu duduk bersama temanmu sedangkan aku duduk di deret ujung satunya dengan kekasihku, sahabatmu juga. Aku meminta nomormu pada kekasihku, aku meneleponmu. Pesan pertamamu mendarat di ponselku.
"Maaf ini siapa, ya?" Aku terbahak bersama kekasihku.
Dia bertanya mengapa, aku jawab, "Aku ingin punya seorang abang."
Dia tak bertanya lagi dan pesanmu tak juga aku balas. Lama waktu berselang, kita mendekat. Kamu, abangku. Ceritamu tentangnya yang kau damba. Ceritaku tentangnya yang telah jadi kenangan. Bantuanmu, nasehatmu, semangatmu jadi bagianku. Lengkap. Melangkapi. Belum ada kata yang pas untuk semua ini. Aku masih mencari.
Masih ingat. Amat lekat. Tentangmu, tentangku. Dibalik pesanmu ada hatimu, pun aku. Bayang tentang ceritamu tentangnya kembali hadir. Menggelitik mimpi yang telah kuandai-andaikan bersamamu. Menggoyahkan harapku. Karena aku takut tentang yang akan hadir. Tentang kepalsuanmu. Tentang ketidakberhasilanmu mengenai hapus menghapus ceritamu tentangnya. Ketakutan menyusup. Tapi ku tak acuhkan. Aku masih baik-baik saja.
Ya, itu beberapa waktu yang lalu, tentangmu. Aku menemukan kata yang tepat untuk kita. Ups. Bolehkah aku menyebut kita? Aku adalah sampah yang selalu membutuhkan wadah untuk menampungku agar aku tak merugikan yang lain. Aku memilih diwadahi agar aku tak lari, agar aku aman. Tempat sampah adalah rumahku. Sedangkan kamu, jelas, si tempat sampah. Siap menampung sampah, agar dia tak mengganggu yang lain. Agar dia memiliki tempat untuk berdiam diri dan mungkin bercerita. Itulah aku dan kamu. Aku sampahnya, kamu tempatnya. Bukankah serasi? Ups~ blossoming.
"Coba ceritakan dirimu." Sederhana bukan? Kembali lagi. Aku menunggu, terus menunggu. Namun tak kunjung hadir tanya yang aku harap. Tak henti doa yang aku panjatkan. Hati kucoba damaikan dengan pikiran. Berharap satu waktu kamu hadir nyata. You know all about me, more than her. You will love me, more than her. Mungkin sedikit egois, keras kepala. Aku cuma masokhis. Inginku cuma kepastian jika kamu yakin pada saya. Juga tentang kita.
Hai tempat sampahku, apakah kamu selesai mengerjakan tugasmu? Text me then...
*menunggumu selesai mengerjakan tugas malam-malam|2347|tdp.

Abangmu yaah.. hehehhehe
BalasHapus