Kau tak sempat, tanyakan aku, cintakah aku padamu? Tiap kali aku berlutut, aku berdoa, suatu saat kau bisa cinta padaku...
Nadia selalu terbayang-bayang akan seseorang jika mendengarkan lagu tersebut. Bukan lagu itu pernah dinyanyikan seseorang, tetapi lagu tersebut mempunyai lirik sama dengan apa yang dialaminya dengan orang itu.
Ya, siapa lagi jika bukan Adib Naufal. Cowok yang singgah di hati Nadia Puri sejak dua tahun silam. Mereka menyimpan perasaan mereka diam-diam. Tanpa sempat mereka sampaikan. Hanya mereka yang tahu dari tingkah laku mereka sendiri.
Empat bulan semenjak kepergian Adib ke kota seberang untuk melanjutkan studinya, hari ini, senin terakhir di akhir tahun ini, mereka kembali bertemu. Adib mengunjungi rumah Nadia siang itu.
“Assalamualaikum” ucapnya ketika masuk ke rumah Nadia.
“Waalaikumsalam” jawab bapak Nadia yang kebetulan sedang libur di rumah.
“Pak, Nadia ada?” tanya dia. Nadia sebetulnya mendengar percakapan tersebut, tetapi dia diam dahulu di kamarnya, mempersiapkan hatinya.
“Ada. Duduk aja dulu Adib. Gimana kabarmu? Lagi liburan ya?”
“Baik, Pak. Iya libur Natal dan Tahun Baru, cuma seminggu saja, kok.”
“Oh... tunggu sebentar ya, Dib.”
“Iya, Pak.”
Nadia bersiap-siap, mematut sendiri di cermin dan mengambil nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya. Fiuh...
“Nadia.... ada Adib tuh di depan.” panggil bapak Nadia dari luar kamarnya.
“Iya, Pak, sebentar.” jawab Nadia.
Ceklik.. Pintu kamar Nadia terbuka, Adib berubah, Adib tambah hitam, tambah tinggi, batin Nadia. Namun, dia mencoba bersikap biasa-biasa saja pada Adib.
“Eh, Adib. Ngapain kamu ke sini? Tumben? Liburan ya?” Nadia membuka percakapan. Yang diajak bicara hanya menunduk bermain ponsel saja.
“Maen lah, masa nggak boleh? Lagi libur nih, cuma seminggu.” jawab Adib masih tertuju pada ponselnya.
Hal itu membuat Nadia dongkol. Baru datang sudah kayak gini, nyebelin banget sih ni anak, umpat Nadia dalam hati. Nadia akhirnya diam saja.
“Kenapa diem?” tanya dia beberapa saat kemudian.
“Nggak papa. Kamu kayaknya makin sibuk sama ponsel kamu.”
“Yaudah deh.” jawab dia kemudian meletakkan ponselnya di meja.
“Gimana di sana?” ujarku kemudian.
Dia mulai bercerita tentang apapun yang ada di sana. Tentang perjalanannya hingga bersekolah di sana, tentang kehidupan di dalam sekolahnya, tentang pekerjaannya. aku terkesan. Aku memandangi dia yang sedang berbicara. Mendengarnya. Tak menyela atau apapun. Dia terlihat bahagia.
Adib, kamu selalu menggebu bercerita tentangmu. Andai kamu tahu, aku ingin berteriak, aku sayang kamu dari dulu !
bersambung***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
thanks for leaving comment :)
have a good day, pals!