And I love you more than I did before. And if today I don’t see your face. Nothing’s changed no one can take your place. It gets harder everyday.
Sore di hari Minggu di akhir Desember ini, Nadia senang, eh, bukan dia senang sekali. Pagi itu, dia bertemu dengan teman sebangkunya saat SMA dahulu, Putri namanya. Keduanya bermain bersama di rumah Nadia. Saling bertukar cerita setelah satu semester tidak bertemu. Mereka bermain dari jam 9 pagi hingga jam 5 sore.
Pertama, mereka buka sesi pertemuan kembali -setelah satu semester tidak bertemu- dengan bertukar novel. Nadia meminjam novel Lovasket dari Putri, sedangkan Putri meminjam The Lost Symbol milik Nadia. Lalu mereka share film-film Korea, lagu-lagu terbaru, video klip, berbenah blog, sampai mengedit cerita yang mereka buat selama tidak bertemu. Ketika hari beranjak sore, mereka menutup pertemuan itu dengan makan bareng di cafe kecil.
Setelah Putri pulang, Nadia berbincang-bincang dengan sang ibu juga bapaknya di teras depan rumah.
“Nduk, kemaren pas ibu ketemu ibunya bilang kalau Adib mau pulang bulan Februari nanti.” ucap ibu Nadia di tengah percakapan mereka.
“Oh... “ jawab Nadia singkat.
“Ibunya juga bilang kalau dia nanti di rumah disuruh kesini. Biar dia main kesini katanya.” lanjut ibu Nadia
“Oh...”
“Dari tadi kok `Oh` wae to nduk?”
“Lha terus? Hehe. Dia udah pulang kok, buk, ini.”
“Lho udah pulang? Kapan?”
“Kemaren, buk. Minggu lalu dia sms aku katanya mau pulang, gitu.”
“Kok nggak kesini? Di sms lagi to nduk.”
“Nggak ah. Ngapain?”
“Lho, ya sering-sering to sms dia.”
Nadia diam saja. Kok bisa-bisanya ibu bilang gitu, batin Nadia. Apa ibu tahu tentang aku sama Adib? Nadia hanya bertanya-tanya dalam hati.
Selang beberapa saat ibu Nadia bicara lagi,
“Nduk, ibu sama ibunya itu udah klop. Dia juga nanti mapan kerjaannya, orangnya juga sopan, ibu suka sama orang seperti itu.”
Nadia hanya bengong saja. Lagi-lagi diam.
Kemudian pembicaraan mereka beralih kepada rencana Nadia pergi ke Surabaya untuk mencari kos baru (Nadia kuliah di salah satu PTN di Surabaya). Nadia ingin pergi dengan naik kereta, tapi dia tidak pernah naik kereta.
“Kamu ke Surabaya mau naik apa?”
“Pengennya naik kereta, buk. Kan pagi berangkat sore bisa pulang, jadi nggak perlu nginep. Tapi aku kan nggak pernah naik kereta.”
“Sama dia aja gimana? Tak suruh dia nganter kamu?”
“Ah, ibuk. Kok dia melulu sih dari tadi?”
“Ya nggak papa to, wong orangnya juga baik.” jawab ibu Nadia sembari tertawa.
bersambung***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
thanks for leaving comment :)
have a good day, pals!