Ini rahasia. Hanya kamu dan aku yang tahu. Ini rahasia yang sulit disebut rahasia.Ini kejadian setelah beberapa hari pulang dari Bali. Aku lupa. Ya, aku mulai…Sore itu sewaktu pulang les, aku janjian sama dia untuk makan malam bersama. Kami janjian lewat obrolan singkat di telepon.“Aku bosan. Mau keluar nggak?” tanya dia.“Kemana?” jawabku.“Makan.” jawab dia singkat. Aku hanya menggumam saja.Lalu dia bertanya lagi, “Mau nggak? Boleh nggak sama dia?”Aku diam saja. Bingung. Mengiyakan atau menolaknya. Aku teringat seseorang yang ada di seberang sana. Aku takut untuk ketahuan.“Kapan?” akhirnya kujawab dengan nada sedikit bimbang.“Sekarang.” katanya singkat. Aku kaget “Hah??”“Mi ayam atau nasi pecel?”“Terserah deh, aku mau semuanya.”“Oke. Aku jemput kamu di tempat les-lesan. Jangan kemana-mana.” ucapmu memerintah.“Hah?? Di tempat les-lesan?? Jangan di tempat les-lesan dong. Ada anak-anak banyak nih. Di gang depan aja.” jawabku cepat-cepat.“Oke. Aku berangkat.” Telepon ditutup. Tanpa sempat aku memberi persetujuan dia langsung saja bertindak. Dia selalu begitu. Dan aku selalu saja mau menurutinya.Selang beberapa saat, aku pergi ke depan gang tempat kami janjian bertemu. Kami naik motor sendiri-sendiri. Itu lebih baik.“Ayo!” tanpa babibu, dia langsung saja mengomando aku untuk mengikutinya. Aku diam saja berjalan di belakangnya. Akhirnya dia memutuskan untuk berhenti di warung kecil yang berjualan nasi pecel. Kami turun, memesan dua porsi pecel dan dua gelas es teh.Lampu temaram di warung itu. Kami duduk berdua. Bersebelahan. Dia membuka percakapan.“Maaf, tempatnya kecil. Tapi aku jamin makanannya pasti enak. Ini warung langgananku sama teman-temanku.” ujarnya.“Iya, nggak papa kok.” jawabku sambil tersenyum.Nasi pecel yang kami pesan sudah tiba. Kami menyantapnya dengan berbicang.“Beneran ini nggak apa-apa? Aku takut kalau ada temenku yang kesini. Soalnya disebelah sana itu rumahnya temenku.”“Semoga nggak.” jawabmu santai. Aku diam saja, kembali melanjutkan makan.“Sudah makan aja. Enak kan?” lanjutnya.“Iya. Enak ternyata.”sahutku.“Aku yang traktir ini.”“Makasih deh.” jawabku sambil tersenyum kepadanya.Kami melanjutkan makan dalam diam di bawah sinar lampu dop kuning 5 watt. Makan malam yang sederhana ini begitu menyenangkan. Aku tak memikirkan apa yang terjadi dan yang mungkin akan terjadi di luar sana. Aku hanya menikmati waktuku bersamanya.
bersambung***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
thanks for leaving comment :)
have a good day, pals!