Dia tidak pernah bilang, aku pun juga.
Namun tingkah kita buktikan segalanya.
Tanpa ucapan apapun.
Kita sudah perlihatkan lebih dari sekedar ucapan itu sendiri.
Siang itu hawa panas menyengat kota Solo. Aku malas untuk keluar, tapi ibuku menyuruhku untuk membelikan kami sekeluarga makanan, kebetulan ibuku tidak masak. Ibuku menyuruhku untuk membelikan rujak di tempat langganan kami. Aku iyakan saja daripada semuanya tidak makan.
Aku naik sepeda kayuh untuk menuju warung rujak itu, karena memang jaraknya lumayan dekat dengan rumahku. Aku berjalan pelan, melewati rumah budhenya. Aku menengok sekilas, motornya ada. Dia di sana. Aku berdoa semoga aku tidak bertemu dengannya.
Akhirnya aku sampai dan langsung saja memesan rujak 4 bungkus, lalu menunggu pesananku jadi. Aku menunggu sambil memandang ke arah jalan di depan warung itu, ketika dikejutkan oleh pesan singkat darinya.
aku mau ke rumahmu nanti jam 2.
Aku kaget. Selalu saja begini. Namun aku juga tak bisa menolaknya. Kujawab saja iya.
Setelah pulang dan makan siang, aku istirahat sebentar sebelum dia datang ke rumahku. Namun aku malah memikirkannya. Sialan.
Beberapa menit kemudian dia kembali mengirimi aku pesan singkat.
aku ke rumahmu sekarang. tunggu aku.
Benar-benar anak ini, umpatku dalam hati. Lalu aku beranjak ke depan cermin. Mematut diriku sejenak, mencoba terlihat sedikit rapi. Kaos oblong, celana selutut, mungkin sudah cukup. Tak ada yang spesial, hanya menemui dia saja.
Beberapa menit kemudian, suara motornya sudah di depan rumahku.
“Assalamualaikum”
“Waalaikumsalam” kubuka pintu dan kusuruh dia masuk.
Tanpa basa-basi dia langsung saja duduk di kursi favoritnya di ruang tamuku. Memang dia sudah menganggap rumahku seperti rumahnya sendiri.
“Ada apa kamu kesini? Ganggu orang tidur aja.”tanyaku menginterogasinya.
“Bapak-Ibumu mana? Kok nggak kelihatan?” dia balik bertanya padaku sambil tengok-tengok ke dalam rumahku.
“Hellloooo... ini siang mas, beliau tidur dong. Jangan keras-keras.”
“Oh... Ya sudah.” ucapnya datar. Menyebalkan.
Dia mengeluarkan sebuah buku lalu berkata “Ajarin aku bahasa Inggris.”
“Hah?” aku kaget dia bilang seperti itu. Aku kira apaan, ternyata.
Dia menjawab ngasal “Hah hah. Ajarin aku. Ini... ”
“Kamu bayar berapa?”
“Masih mau minta bayaran? Aku laporin aja ke ibumu.”
“Silakan. Sebodo amat.” jawabku jutek.
“Eh, jangan marah kenapa sih. Maaf. Ini bantuin ya..” dia memasang muka melas.
Akhirnya kami belajar bahasa Inggris bersaama. Hingga beberapa waktu berlalu, ibuku ternyata sudah bangun kemudian menghampiri kami sambil membawakan 2 bungkus Yakult dingin.
Tanpa sungkan-sungkan, dia langsung meminumnya. Dan ibuku bukannya ilfeel atau apa, beliau malah senang melihatnya dan menyuruh membawa pulang Yakultnya. Dia pun kegirangan. Aku hanya termangu melihat sikapnya, sikap ibuku kepadanya. Biasa, seperti sudah kenal. Dan kenyataanya memang iya.
“Kamu ini.. jangan dibawa pulang, itu kan bagianku.”
“Ibumu yang nyuruh bawa pulang, ya aku bawa.” ucapnya tersenyum jahil.
“Enak aja. Aku kan belum minum.” aku memasang muka cemberut.
“Nih” dia hanya menyodorkan segelas Yakult dari 2 bungkus yang ada. Astaga, batinku. Dia hanya tersenyum. Aku juga. Akhirnya, kami lupakan belajar bahasa Inggris bersama siang itu. Kami bercerita panjang lebar tentang studi kami selanjutnya. Hingga akhirnya pesan singkat dari temannya membuyarkan percakapan siang itu.
“Aku pulang dulu. Ada futsal.” Dia berkata setelah membaca pesan singkat dari temannya itu. Aku tidak bertanya lagi. Diam.
“Aku pergi dulu. Pamitin sama bapak-ibumu.” ujarnya. Aku hanya mengangguk.
“Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam.”
Dia menyalakan mesin motor dan bergegas pergi. Tanpa senyuman. Tidak apa-apa. Percakapan siang yang menyegarkan suasana yang terik. Terima kasih. J
bersambung***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
thanks for leaving comment :)
have a good day, pals!